MENEMBUS LORONG WAKTU, MENYIBAK WAJAH HANGAT MUSEUM BANK INDONESIA DI MATA JURNALIS RIAU
Riautelevisi.com, Jakarta - Di balik megahnya deretan gedung tua yang berbisik tentang riwayat zaman, tersimpan sebuah kekeliruan yang kerap mengakar di benak masyarakat: bahwa museum adalah tempat peristirahatan terakhir bagi benda-benda bisu yang terkubur debu masa lalu. Namun, anggapan itu luruh seketika tatkala kaki melangkah menyeberangi ambang pintu Museum Bank Indonesia (MuBI).
Pernyataan tersebut terpancar nyata saat Ketua Museum Bank Indonesia, Rio Wardhanu, menyambut hangat kedatangan rombongan jurnalis dalam rangkaian Kunjungan Ke Museum Bank Indonesia Jakarta, Kamis (24/9/2026). Bagi MuBI, museum bukan sekadar etalase bisu sejarah, melainkan sebuah ruang hidup tempat bertemunya denyut masa lalu dan gelora gagasan masa depan.
Dalam kunjungan yang memikat itu, para kuli tinta diajak menelusuri lorong-lorong waktu; meraba jejak sejarah kebanksentralan, menyaksikan evolusi kepingan mata uang nusantara, hingga mengagumi keagungan arsitektur gedung yang menyimpan saksi bisu perjalanan bangsa.
"Museum Bank Indonesia ini adalah cara Bank Indonesia memperkenalkan bagaimana menyampaikan sejarah kebanksentralan, juga mengenai desain arsitektural dan koleksi numismatik, sejarah bagaimana mata uang itu pernah beredar di wilayah Nusantara," ujar Rio.
Lebih dari sekadar memamerkan lembaran uang kuno dan megahnya bangunan, MuBI merangkul konsep inklusivitas yang membumi. Museum ini diciptakan sebagai ruang publik yang terbuka lebar, ramah bagi siapa saja tanpa memandang usia maupun latar belakang sosial.
"Artinya siapapun boleh hadir di sini, dari segala umur, dari segala kalangan dengan cara yang paling mudah aksesnya," tutur Rio penuh antusias.
Komitmen itu dibuktikan lewat kebijakan akses yang sangat bersahabat. Untuk kunjungan rombongan, pintu museum dibuka tanpa memungut biaya sepeser pun dari awal hingga akhir. Sementara bagi pengunjung perseorangan, tiket masuk dibanderol sangat terjangkau, yakni Rp5.000 saja pada hari operasional (di luar hari Senin).
"Gunanya apa? Supaya akses kepada pengetahuan kami berikan secara jauh lebih terjangkau," jelasnya.
Namun, keterjangkauan bukanlah satu-satunya mahkota yang ingin dikenakan MuBI. Sebagai bagian dari komunitas museum moneter internasional yang menghimpun bank-bank sentral dunia, MuBI merajut paradigma baru: mengubah museum menjadi wadah peleburan ide.
"Konsepnya tidak lagi hanya sebagai tempat untuk barang-barang tua, tapi museum itu menjadi tempat di mana kita bisa menyatukan gagasan, membicarakan hal-hal baru, kebaruan, sehingga kita bisa memperoleh ide-ide baru untuk kemajuan," ungkap Rio.
Nyawa dari gagasan segar itu dihidupkan melalui pameran temporer yang digelar secara berkala setiap tahunnya. Tema-tema yang diangkat pun selalu selaras dengan denyut zaman. MuBI pernah mengajak pengunjung merenungi kelestarian alam lewat tema "Ekofilia" yang bersandar pada ekonomi hijau, hingga menyuarakan narasi alternatif yang menyentuh jiwa melalui pameran "Her Story", yang membedah sejarah dari sudut pandang perempuan.
"Kalau biasanya orang melihat history (sejarah) secara umum, sekarang kita hadirkan dari sudut pandang perempuan. Jadi gagasan-gagasan baru ini kita berikan kesempatan, museum sebagai wadah untuk saling berkumpul dan mendiskusikan," tambahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rio juga menyampaikan apresiasi mendalam kepada Bank Indonesia Perwakilan Riau yang telah memilih MuBI sebagai labuhan silaturahmi bersama para jurnalis. Ia berharap, kehangatan yang terjalin hari itu mampu memperkuat sinergi antara bank sentral dan insan media sebagai garda terdepan penyampai informasi kepada publik.
Lebih jauh, ia berpesan agar kehadiran museum mampu meninggalkan kesan yang melampaui batas-batas angka dan kebijakan moneter.
"Berharap tidak hanya bicara mengenai ekonominya, tapi juga melihat Bank Sentral dari sisi budayanya, sisi bagaimana kita merawat kesejarahannya," pungkas Rio menutup perjumpaan.
Sementara Itu , Kepala Bank Indonesia Perwakilan Riau Pandji Achmad Menjelaskan , Museum Bank Indonesia Jakarta Ini Sudah Berusia 200 Tahun . Jadi Teman-teman media bisa membayangkan Sejarah Yang Telah Terbentuk Dari Zaman VOC, Hindia Belanda Hingga Zaman Modern ini .
"Di Riau Juga Ada Museum Bank Indonesia Di Pulau Bengkalis , Yang Usia Masih Sekitar 100 Tahun , Namun Yang Disini Jakarta , Usia Nya 200 Tahun . Dapat dilihat Dari Arsitekturnya Yang Berkembang Dari Zaman kerajaan Di Nusantara (1799) Hingga V.O.C Kolepse dan digantikan dengan Hindia Belanda , Sampailah Pada tahun 1951 Nasionalisasi De Javasche Bank Yang Selesai pada 1953 menjadi Nama Bank Indonesia ". ujar Pandji Achmad Ke Media .
Masyarakat Luas , Diajak Untuk Mengenal Sejarah Bangsa lewat Karya-karya Bank Indonesia yang tersimpan rapi Dari Sebelum Zaman Kemerdekaan Hingga Zaman Modern ini.
Penulis : Hermansyah
Berita Terkait :
- Korpri Ajak Masyarakat Ramaikan Hut Korpri
- Toyota Expo Dan Launching All New Toyota Innova
- Wako Hadiri Pelantikan PK KNPI Bukit Raya
- Muswil Ke 25 Muhammadiyah Riau Harapkan Sang Pencerah
- Kampar : Spesialis Pencuri Kabel Listrik Chevron Diringkus
Komentar Via Facebook :





